top of page
Search
  • Writer's pictureRemaja Tampubolon

Mastering Stress



Belakangan ini kita sering sekali mendengar atau membaca kalimat "Burnout, Overthinking, lingkungan toxic, berdampak Mental Health, dan membuat unsecure dan depresi".


Hmm, membaca kalimat ini aja kok ya rasanya menderita sekali hidup ini.


Kalimat anak Jaksel ini memang terkesan penuh drama, namun kondisi ini nyatanya benar-benar terjadi. Ada lho orang-orang yang sangat tertekan oleh hal-hal diluar dirinya seperti pekerjaan, atau tugas kuliah, ia merasa “teraniaya” oleh semua itu, terjebak oleh perasaan tidak nyaman dan tidak bisa lepas.


Akibatnya, kehidupannya menjadi berantakan, emosinya meledak-ledak, dan terkadang melampiaskannya ke orang lain dengan berbagai cara. Ada juga orang yang tidak bisa mengekspresikan perasaannya, tenggelam oleh semua hal yang membebaninya, dan memilih untuk meninggalkan dunia.


Saya tidak bermaksud mengecilkan situasi tersebut, justru fenomena ini ingin saya angkat agar teman-teman bisa melihat “angle” lain dari perasaan-perasaan tersebut, dan bisa lebih aware jika teman-teman merasakan hal yang sama.


Apapun nama dan istilahnya; Burnout, Overthinking, Mental Health, depresi dll, pemicunya adalah sama, yaitu stres.

Stres memang menjadi penyakit mematikan pertama di era modern, bahkan mengalahkan penyakit jantung.

Banyak orang yang memiliki jasmani sehat, lengkap dan sempurna, namun menjadi lemah, sakit stroke dan berakhir hidupnya karena stres.


Apa itu stres? Mengutip dari laman UNICEF, stres adalah perasaan yang umumnya dapat kita rasakan saat berada di bawah tekanan, merasa kewalahan, atau kesulitan menghadapi suatu situasi. Stres dalam batas tertentu bisa berdampak positif dan memotivasi kita untuk mencapai suatu tujuan, seperti mengerjakan tes atau berpidato. Namun, stres yang berlebihan, apalagi jika terasa sulit dikendalikan, dapat berdampak negatif terhadap suasana hati, kesehatan fisik dan mental, serta hubungan kita dengan orang lain.


Stres bukanlah hal baru, bahkan sejak zaman nabi pun stress sudah ada, namun tentu para nabi mampu meredam dan membuat situasi stres itu menjadi hal yang positif, memicu semangat untuk lebih kreatif dalam menyebarkan ajaran. Tingkat stres di era nabi pun berbeda, saat itu para nabi didera oleh ancaman pembunuhan, diburu dan dikejar oleh para manusia dzolim yang enggan menerima perubahan dan ajaran nabi.


Apakah tingkat stres kita sampai di level itu? Sepertinya tidak. Faktor utama dan terbesar yang membuat kita stres di era saat ini adalah pikiran kita sendiri. Kita digelayuti oleh banyaknya ekspektasi, ada keinginan mendapatkan semua sesuai dengan maunya kita, ingin pekerjaan lancar, ingin tugas kantor tidak ada revisi, ingin bos yang tidak jutek, namun ketika kenyataannya berbeda, maka ada perasaan gagal yang membebani kita. Pikiran kita memanipulasi hati, seketika kita merasa bahwa kita tidak layak, kita kalah, kita tidak sama dengan orang lain, dan dikhianati oleh proses.


Mengapa orang lain tampak begitu indah hidupnya, tampak begitu sempurna dan meraih semua mimpinya dengan mudah? Mulailah kita berperan menjadi juri yang menilai tingkat kelayakan seseorang. Semua hal itu mencengkram erat pikiran kita, membuat kita galau dan tidak bergairah, dan ujungnya kita stres.


Saya pernah ada di posisi itu, saya pernah terjebak oleh perasaan dan pikiran yang menarik saya ke dalam lingkaran stres dan membuat saya merasa “malas” memberikan yang terbaik untuk perusahaan.


Saat itu saya berekspektasi dipromosikan, setelah sekian lama saya bekerja dan selalu berupaya mencapai KPI terbaik. Namun hari itu ekspektasi saya salah, justru sahabat saya yang dipromosikan. Seketika saya merasa semua ini tidak adil, saya merasa kerja keras saya tidak dilihat, saya merasa dikhianati oleh proses. Pikiran kelam itu terus menari-nari di kepala saya, membutakan hati saya, dan saya membuat penilaian sendiri terhadap orang lain.

Beruntungnya saya disadarkan oleh mentor saya, bahwa itulah proses untuk mematangkan mental saya, karena kelak ketika saya dipromosikan menjadi leaders, saya harus bisa berdamai dengan situasi yang tidak ideal. Setelah itu segera saya bangkit, saya memaknai kejadian itu sebagai pembelajaran, tugas kita adalah memberikan yang terbaik, penilaian bukanlah ranah kita.


Akan ada banyak fase kehidupan yang akan kita lalui, tidak selamanya mudah, dan tidak selamanya indah. Kita harus terlatih, ketika kehidupan sedang pelik dan sulit. Aset terbesar kita sebagai manusia adalah pikiran. Apakah kita mau aset kita dirusak oleh situasi stres? bagaimana mengelola pikiran kita agar tetap "waras".


Raja George VI merasakan tingkat stres yang luar biasa karena ia harus menunjukan kemampuannya berorasi dan meyakinkan orang lain, padahal ia terlahir sebagai orang yang gagap. Melalui film The King’s Speech menggambarkan bagaimana perjuangan Raja George VI dalam menghadapi kelemahan yang seharusnya tidak dia miliki sebagai seorang raja. Sang raja mampu mengelola stres dan tekanan yang ia hadapi untuk bisa mengeluarkan potensi terdalamnya. Mungkin jika keadaan baik-baik saja, semua orang menerima kekurangan Raja George VI, ia tidak akan pernah mencatatkan sejarah.


Overthinking

Overthinking, bahasa gaulnya adalah “kegalauan”, bisa dikatakan pemikiran yang berlebihan. Memikirkan segala sesuatu dengan berlebihan. Banyak yang menganggap overthinking sebagai sebuah sikap berhati-hati sebelum memberi keputusan. Padahal terlalu sering overthinking dapat memberikan dampak tidak baik bagi kesehatan mental.

Dikatakan penyakit mental karena overthinking menghambat diri kita melepaskan apa yang sudah berlalu, terjebak pada penyesalan dari masa lalu dan terpaku pada skenario “bagaimana kalau..”


Overthinking membuat seseorang yang sedang mengalami masalah tidak berfokus mencari solusi, mereka hanya kepikiran “kok bisa sih, aduh gimana ini..”

Rasa cemas yang timbul akan membuat otak terus aktif, pikiran tidak bisa tenang dan sulit konsentrasi. Orang yang overthinking juga selalu menyalahkan diri sendiri, mereka sulit move on, terjebak sama angan-angan yang tidak jelas.


Stres adalah fakta kehidupan, tetapi terlalu banyak berpikir adalah pilihan!

Jadi kembali ke kalimat awal artikel ini, bahwa pikiran kita adalah kunci utamanya, ketika dihadang masalah bagaimana pikiran kita tetap berpikir jernih, tidak grasa-grasu dalam mengambil keputusan, yang akibatnya membuat kita cemas dan kepikiran apakah tindakan itu tepat atau keliru. Kenali betul batas kemampuan diri kita, jangan terlalu berambisi ingin menyelesaikan semua dalam satu waktu, ingat setiap fokus pekerjaan membutuhkan energi.


Lalu, bagaimana mensiasati dan menghindari situasi stress? setidaknya ada 3 hal sederhana yang bisa lakukan untuk bisa mengurangi dan menangani stress:


1. Sharing dengan orang lain.

Buka diri, carilah orang yang bisa diajak bicara, jangan berharap orang lain mengerti kita, kitalah yang harus dengan sadar membuka diri untuk orang lain bisa berbicara dengan kita. Tidak semua masalah selesai dengan chat, anda harus berbicara “human to human”.


2. Cari hal yang membuat anda bahagia.

Hidup penuh dengan pilihan, memilih berdiam dan hanyut dengan hal yang anda tidak bisa kontrol, atau berusaha mencari sumber energi yang mendatangkan perasaan bahagia? Ketika saya sedang suntuk, maka saya akan berdiam bermeditasi, atau jalan ke mall menyegarkan pikiran. Meskipun dengan begitu masalah tetap ada, tapi saya merasa lebih siap berjibaku dengan segala deadline tersebut.


3. Kembali Pada Pola Hidup Sehat.

Hectic-nya pekerjaan kerap membuat kita lupa untuk menjalani gaya hidup sehat. Menurut Mayo Clinic, istirahat yang cukup, konsumsi vitamin dan makanan bergizi serta berolahraga dapat membantu melindungi Kesehatan fisik dan mental dari stress pekerjaan. Dan sering sekali kegiatan fisik bisa meredakan stress yang terjadi dan membantu seseorang bisa lebih produktif.


Cara terbaik untuk mengurasi stres adalah dengan berhenti bersikap buruk.



Salam,


Remaja Tampubolon



351 views0 comments

Recent Posts

See All

Mindset

bottom of page