Search
  • Remaja Tampubolon

Ketika Natural Living menjadi Artificial Living



Tahukah Anda berapa lama durasi minimal kita menatap layar HP, Laptop atau Tablet sepanjang hari? 7 Jam !!. Ya minimal 7 Jam, dan bahkan beberapa teman bisa sampai lebih dari 10 jam lho. Lebih-lebih ketika situasi pandemi sedang peak seperti pertengahan tahun kemarin, aktivitas kita sangat terbatas, dan bisa jadi durasi menatap layar HP dan teman-temannya itu lebih banyak.


7 Jam perhari sama dengan sepertiga waktu kita tersedot di dunia maya. Dengan waktu yang sama bisa dipakai untuk berjalan kaki dari bunderan HI Jakarta sampai ke Cikarang Jawa Barat. Waktu yang sama bisa dipakai untuk menonton Film Avenger Endgame 2 kali plus break 1 jam.


Tanpa kita sadari, kita menghabiskan minimal sepertiga waktu untuk berinteraksi melalui gadget kekinian. Kita bekerja, menyapa keluarga, dan bahkan melepaskan rindu dengan orang terkasih pun dimediasi oleh gadget. Tidak salah, memang aktivitas di era modern seperti sekarang tidak lepas dari internet, browsing, mobile banking, media social dan bahkan bermain games melalui layar di Gadget kita. Semua diwakilkan oleh sarana gadget-gadget tersebut. Tidak berlebihan jika dikatakan saat ini manusia telah beralih dari Natural Living menjadi Artificial Living.

Peranan alat-alat digital nan canggih dan rombongannya telah menjadi bagian dari kehidupan kita, mulai dari membuka mata di pagi hari hingga akan menutup mata di malam hari. Dan rasanya begitu berat jika alat-alat ini tidak ada didekat kita. Anda akan lebih rela ketinggalan dompet daripada ketinggalan Smart Phone Anda. Begitu mendominasinya semua ini, sampai bagi beberapa orang, mereka lebih nyaman berinteraksi di dunia maya daripada di dunia nyata, bahkan di Jepang sudah dilegalkan seseorang bisa menikahi boneka seksnya.


Hmmm.. semoga di Indonesia hal ini tidak terjadi.


Ledakan Artificial Intelligence telah mendorong gaya hidup yang berbeda, gaya hidup yang serba minimalis. Ledakan ini pun ditangkap oleh Mark Zuckerberg dengan menghadirkan Metaverse, sebuah lompatan teknologi yang akan merubah cara interaksi di dunia maya. Mark menyebutkan, internet dalam bentuk 3D yang digambarkan sebagai lingkungan virtual. Semua saling terkoneksi dan teringtegrasi di dunia maya, kita bisa wisata virtual, menonton konser virtual dll. Bagi kami, yang lahir jauh sebelum peradaban internet, melihat evolusi ini jawaban atas kebutuhan manusia yang semakin ingin minimalis. Maunya murah tapi wajib cepat, maunya cepat tapi mesti berkualitas. Tuntutan-tuntutan ini sejalan dengan makin canggihnya alat-alat di tangan kita serta kemudahan yang diberikan. Semua bisa didapatkan hanya dengan klik, klik, di layar HP tanpa harus bergeser.


Saya memaknai perubahan dunia ini dalam kacamata berbeda, saya mendefinisikan perubahan ini sebagai ledakan artificial. Mengapa ledakan? karena awalnya semua perubahan kehidupan yang saya sebut diatas diprediksi akan terjadi sekitar 5 sd 10 tahun dari sekarang, namun kehadiran COVID 19 telah merubah semuanya. Semua menjadi lebih cepat, lebih dini dan lebih masif. Pandemi telah mengakselerasi perubahan. Saya mengamati ledakan artificial ini dari 2 sisi, yaitu Produktivitas dan Humanitas


Dari sisi Produktivitas, semua sarana dan alat-alat artificial sangat membantu pekerjaan manusia, mempermudah dan memperingkas proses yang manual. Melalui alat-alat ini juga manusia bisa menciptakan kehidupan lebih baik, membantu dunia medis menciptakan otot buatan bahkan organ buatan. Ya, kehadiran teknologi menjadi jawaban atas kebutuhan manusia modern. Menghilangkan jarak dan waktu, semua bisa dilakukan “anything, anywhere and anytime”. Menghasilkan inovasi yang memberikan dampak besar bagi masa depan.


Dari sisi Humanitas, ini bisa menjadi ancaman jika tidak dicermati. Keseharian kita yang didominasi teknologi membuat ketergantungan yang sangat besar. Kita lebih percaya apa kata "google" daripada kata orangtua. Contoh kecil saja, ketika kita memutuskan akan makan di restoran di lokasi yang kita tidak kenali, maka kita lebih percaya review dan testimoni di internet dari pada referensi orang yang kita temui. Ketika kita berlibur dengan keluarga kesuatu tempat, kecenderungan kita ingin segera posting di media sosial, kita sibuk dengan tampilan, alhasil 10 sampai 20 kali cekrekan baru merasa cocok. Dan setelahnya kita asyik duduk memposting diberbagai kanal media sosial. Kita tidak benar-benar hadir. Kita tidak benar-benar menikmati karena sibuk dengan eksistensi.


Humanitas makin terkikis dan seolah tergantikan oleh teknologi, interaksi yang tergantikan dengan chat dan emoticon. Anak-anak gen Z lebih mau berdiskusi dengan orangtua melalui chat, mereka kesulitan berekspresi ketika berinteraksi langsung dengan orang tua mereka. Dan beberapa kasus diluar sana banyak sekali orang yang berkomentar negative, membully dan menghujat seenaknya, mereka merasa aman dan berlindung dari akun palsunya.


Lalu baiknya bagaimana Bang?

Masing-masing orang memiliki pendekatan yang berbeda, bisa jadi opini saya ini tidak terlalu pas untuk yang lain. Namun jika boleh berpendapat, maka pendapat pribadi saya adalah jadilah manusia yang utuh, yang mampu membaca dan memahami situasi, cerdas dalam menempatkan diri. Ada elemen yang Tuhan titipkan dan tidak terganti oleh teknologi, yaitu Emosi.

Emosi adalah bagian penting dari kecerdasan manusia. tanpa kecerdasan emosional kecerdasan buatan tidak lengkap.


Kita tidak bisa bersikap naif, menolak perkembangan teknologi yang terjadi (kecuali Anda mau hidup di goa). Namun ada baiknya kita cermini diri ini, apakah kehadiran kita sudah utuh 100%. Apakah kita mengoptimalkan semua sarana dan alat-alat gadget yang kita miliki atau sebaliknya, justru kita yang sedang dioptimalkan oleh itu semua. Ingat semua itu adalah alat bantu, bukan alat pengganti kita. Kita tetap dibutuhkan secara fisik, interaksi langsung, dan kehangatan.

Ada hal yang tidak tergantikan dalam diri kita, ada hal yang Tuhan sudah berikan dan Tuhan ingin itu hanya ada pada manusia. Pahami bahwa perubahan sudah terjadi, kita harus menyesuaikan diri, bukan berarti kita menggantungkan diri. Kita ikuti cara main, bukan hanyut dalam permainan. Selamat menikmati sore yang indah ini, Sapa sahabat atau rekan kerja disebelah meja Anda, tanya kabar dan aktivitas mereka, tatap matanya, berikan senyum terbaik Anda. Semoga bermanfaat, Remaja Tampubolon

328 views0 comments

Recent Posts

See All