Search
  • Remaja Tampubolon

Dalam Kegelapan Ada Cahaya (Even In Darkness There Is Light)


Cahaya itu hal yang indah,

Gelap itu hal yang suram

Cahaya itu menghangatkan,

Gelap itu membekukan

Cahaya ibarat harapan,

Gelap ibarat keputusasaan

Cahaya adalah hal yang pasti,

Gelap tidak menentu


Di dalam cahaya waktu terasa singkat, di dalam kegelapan waktu terasa lambat


Cahaya dan gelap selalu menjadi dua hal yang berbeda, dua kutub yang berseberangan.

Tapi, ketika datang gelap, kita akan lebih bisa menghargai cahaya.


Dan inilah yang terjadi, saat ini kita sedang ada di fase “Gelap” demi bisa menuju sebuah harapan, yaitu “Cahaya”.


Setelah berjibaku 1,5 tahun dengan pandemi, dan berusaha hidup dengan New Normal, ternyata bencana itu belum berakhir. Gelombang dengan ombak besar itu kini datang, gelombang yang lebih mengancam dan membahayakan.


Begitu cepatnya, gelombang itu menyapu sisi keyakinan kita, menggerogoti kepercayaan diri, karena angka yang terpapar melonjak tajam, bukan lagi orang jauh, tapi lingkungan terdekat pun menjadi korban.


Cahaya yang sejenak menjadi harapan pun mulai terkikis, kembali kita masuk di ruang kegelapan. Seakan gelombang itu memporak-porandakan harapan kita.


Kebijakan pengetatan kegiatan masyarakat di Jawa Bali, membuat sebagian dari kita merasa kembali masuk dalam kegelapan. Banyak yang merasa usahanya baru saja mulai bergairah kini harus menutup kembali, teman-teman penyelenggara event yang mulai merancang kegiatan yang melibatkan orang harus menerima kenyataan penundaan acara.

Hotel dan restaurant yang merasakan geliat di 3 bulan terakhir pun harus bersedia mengikuti aturan baru ini. Pelajar pun harus melupakan kegembiraan akan tatap muka, karena masih harus belajar daring.


Tapi ini semua adalah bagian dari cerita yang memang harus kita lewati untuk bisa kembali ke cahaya terang. Ini adalah “pil pahit” yang harus kita telan bersama demi bisa kembali sehat. Kegelapan ini bukan untuk membutakan kita, tapi untuk membuka mata batin kita, bahwa ada bagian yang kita lupa, ada bagian yang kita anggap sepele, yaitu kebebasan.


Kita merasa telah bebas, hingga perilaku kita menjadi bablas.

Kita yang selama ingin buru-buru, merasa tergesa-gesa hingga tidak melihat apa yang terjadi, dan kemudian di suatu hari disadarkan akan waktu baru yang telah datang.

Waktu yang memaksa kita kembali untuk berhenti sejenak, berdiam untuk beberapa waktu.


Dunia yang kita bangun seolah kembali runtuh, begitu banyak orang yang tiba-tiba pergi, begitu banyak hati yang terkoyak. Banyak yang terpapar, saudara dan kerabat kita. Gelombang itu seolah mengepung, dan kita seolah menunggu giliran.


Kita disadarkan segala nikmat kemewahan dan kebanggaan yang kita miliki ternyata tipis sekali jaraknya dengan kehilangan. Hal yang kita anggap remeh, kini menjadi hal yang paling esensial, yaitu kembali berdiam.




Kembali berdiam, mungkin membosankan,

tapi itulah yang menyelamatkan.

Kembali berdiam, kita diajak mengendalikan hal

yang bisa kita kontrol, yaitu diri kita.

Kembali berdiam, membawa kita pada harapan, yaitu kebebasan.


Kebebasan untuk pergi ke luar, untuk berlari di pantai, untuk merasakan hangatnya sinar matahari di kulit kita, untuk menghabiskan waktu bersama orang yang kita cintai, kebebasan untuk menjalani apa yang kita perjuangkan.




Saatnya kita bertanggung jawab dengan tetap taat. Saatnya kita mengambil peran dengan menjaga diri kita. Jangan terus mengutuk kegelapan, tapi cobalah bersahabat dengannya. Karena kali ini, kegelapan itulah yang menuntun kita menuju cahaya




Salam sehat selalu, Remaja Tampubolon


157 views1 comment

Recent Posts

See All