Search
  • Remaja Tampubolon

Bergeraklah, Karena Air pun Akan Keruh Jika Hanya Diam

Updated: Dec 26, 2021




Kita kini sudah ada dipenghujung November, artinya tersisa 1 bulan lagi untuk kita mengakhiri tahun 2021 ini.

Ada banyak hal yang terjadi sepanjang tahun ini, manis dan getir, suka dan duka, terang dan gelap.

Tahun 2021 memang penuh dengan warna yang tidak selalu cerah dan indah. Ledakan gelombang Covid yang terjadi pertengahan tahun, beberapa sahabat yang harus pergi meninggalkan kita, serta tidak sedikit usaha yang terpaksa tutup dan melepaskan pegawainya.


Semua yang terjadi membuat kita menjadi lebih kuat, semua yang berlalu membuat kita lebih Tangguh.

Kini kita memiliki pengharapan bahwa hari esok akan lebih indah.


Indikasi ini bisa rasakan dalam 1 bulan terakhir ini. Gairah ekonomi mulai membaik, masyarakat mulai beraktivitas normal dengan standar baru, para murid mulai kembali belajar di sekolah, dan perusahaan mulai fokus pada upaya pemulihan usaha.


Momentum kebangkitan ini membawa kehangatan dan membangun optimisme dalam diri. Saya, Anda dan kita semua rasanya sudah harus terbiasa dengan situasi ini. Kita tidak lagi membahas kesulitan dan keterbatasan. Kita membahas peluang, kesempatan dan langkah-langkah besar. Kita tidak terpaku lagi dengan pandemi, tetapi kita mulai berakselerasi meskipun dalam situasi pandemi.


Sayangnya gairah kebangkitan ini tidak membuat serta merta teman-teman yang lain ikut bergerak. Ada semacam pembenaran yang keliru yang membuat teman-teman memilih untuk pasif, merasa cukup dan menerima saja apa adanya. Merasa cukup tidaklah sama dengan bersyukur. Merasa cukup biasanya didorong oleh keengganan melakukan upaya lebih. Mereka enggan berjibaku keluar rumah, mereka enggan berusaha, enggan berjumpa dengan orang lain, enggan mengeksplorasi cara-cara kerja berbeda. Keengganan ini lalu diasumsikan tindakan bersyukur.

NO! Ini salah besar.


Orang-orang yang bersyukur adalah orang menikmati hasil. Orang bersyukur menyerahkan hasil akhirnya pada keputusan Tuhan, bukan berarti mereka behenti berusaha. Mereka tetap berusaha (ikhtiar) dengan upaya terbaik. Tidak "mager", tidak pasif. Mereka bergerak menjemput dan mencari rezeki, lalu menyerahkan hasil akhirnya pada kuasa Ilahi.


Saya mengamati diwaktu-waktu krusial seperti akhir tahun ini banyak sekali teman-teman yang bersembunyi dari keengganan mereka dan berusaha membenarkan dengan kalimat “Begini saja saya sudah bersyukur bang, jika dibandingkan dengan perusahaan lain, pencapaian saya ini sudah lebih baik”. Atau.. “Masih bagus saya capai target 70% Bang di masa pandemi seperti ini, orang lain malah gak tercapai sama sekali”.


Sahabat, kita adalah manusia yang dibekali dengan begitu banyak sumber daya. Tuhan telah melimpahkan banyak rezeki di muka bumi ini, dan rezeki itu tidak datang tiba-tiba masuk ke rekening Anda. Anda harus mencarinya. Mengejarnya. Melipat-gandakannya.

Tidak mengoptimalkan sumber daya yang Tuhan limpahkan bagi saya adalah bentuk kesombongan. Karena Tuhan sendiri menyukai hambanya yang berusaha. Bukan yang diam dan hanya berharap datang bala bantuan.


Jika ada 2 orang petani yang berharap turunnya hujan, namun hanya 1 petani yang menyiapkan lahan, dan 1 petani lainnya hanya diam, kira-kira mana yang akan berpotensi mendapatkan hujan (dari Tuhan)?

Alam semesta ini menyediakan tempat bagi mereka yang bergerak, berusaha, memaksimalkan potensi diri.



Masih ada 1 bulan kita bertempur dengan keengganan kita. Masih ada waktu kita optimalkan sumber daya kita dan “merayu” sang khalik dengan ikhtiar terbaik kita. Masih ada arena dan pertandingan yang harus kita selesaikan. Jangan menunda, apalagi menunggu pergantian tahun, beralasan waktu terbaik memulai sesuatu adalah awal tahun. Ingat berapa banyak resolusi awal tahun yang anda tulis dan tidak pernah tererealisasi.


Lakukan sekarang. Lakukan dari yang termudah. Bangun! Jangan kalah dengan kemalasan! Hilangkan kata-kata "mager". Ciptakan narasi dan afirmasi positif untuk tubuh anda.


Maksimalkan waktu yang ada, jangan mengukur ukur hasil, jauhkan perasaan merasa kalah dan tidak terkejar target. Kita tidak pernah tahu keajaiban yang akan datang. Tugas kita adalah terus bergerak, terus berpengharapan, dan yakin bahwa sekecil apapun usaha yang kita lakukan tidak akan pernah sia-sia.

BERGERAKLAH!



Salam dari riuhnya gerbong di dalam Kereta Api menuju Kota Purwokerto Remaja Tampubolon


80 views0 comments

Recent Posts

See All